INFO NASIONAL - Pertamina secara resmi menyatukan subholding hilir yang selama ini dijalankan oleh PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), serta segmen bisnis PT Pertamina International Shipping (PIS). Penggabungan tersebut membentuk Subholding Downstream dengan PPN sebagai entitas penerima penggabungan.
Proses integrasi dilakukan melalui evaluasi menyeluruh, termasuk benchmarking terhadap perusahaan minyak dan gas global sejenis, guna memastikan struktur bisnis yang efisien dan berdaya saing.
Penyatuan bisnis ini diharapkan menciptakan ekosistem hilir yang terintegrasi, mulai dari pengolahan bahan bakar di kilang, distribusi energi ke seluruh wilayah Indonesia, hingga pemasaran produk sesuai kebutuhan masyarakat.
Dengan rantai pasok yang terhubung, Pertamina menargetkan penguatan ketersediaan energi yang andal (availability), akses yang merata hingga ke pelosok negeri (accessibility), produk yang sesuai kebutuhan dan lingkungan (acceptability), serta harga yang kompetitif (affordability). Integrasi ini juga menjadi bagian dari upaya percepatan transisi energi melalui pengembangan portofolio bahan bakar rendah karbon.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan, integrasi bisnis hilir bertujuan meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat kepastian pasokan energi nasional, serta meningkatkan daya saing perusahaan. “Ketika kilang, distribusi, logistik, dan pemasaran bekerja sebagai satu sistem, koordinasi menjadi lebih cepat, keputusan lebih efektif, dan layanan kepada masyarakat semakin andal,” ujarnya.
Menurut Simon, di tengah tantangan geopolitik dan persaingan global, Indonesia membutuhkan Pertamina yang lincah, kuat, dan terintegrasi. Sistem terpadu dinilai mampu menghilangkan tumpang tindih proses dan mempercepat penyaluran energi dari Sabang hingga Merauke.
Melalui Subholding Downstream, Pertamina juga menargetkan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Integrasi ini, kata perusahaan, tidak akan mengganggu pelayanan publik, mitra bisnis, maupun pekerja, melainkan memperkuat kolaborasi lintas fungsi untuk menjamin pasokan energi yang berkelanjutan.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyatakan integrasi bisnis hilir yang berlaku mulai 1 Februari 2026 merupakan bagian dari implementasi Asta Cita swasembada energi. “Ini bukan sekadar perubahan organisasi, tetapi penguatan fondasi Pertamina sebagai soko guru penyediaan energi nasional,” ujarnya.
Baron menambahkan, dengan proses bisnis yang lebih efisien dan terintegrasi, Pertamina memastikan layanan energi kepada masyarakat tetap optimal dan tangguh menghadapi tantangan global.
Sebagai pemimpin transisi energi, Pertamina juga menegaskan komitmennya mendukung target Net Zero Emission 2060 serta mendorong program-program yang selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), melalui penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasinya. (*)

1 day ago
3




















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5198392/original/009565300_1745546901-Clair_Obscur_Expedition_33_02.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442228/original/014176900_1765531627-Star_Wars_Fate_of_the_Old_Republic__Dok.Gamespot_.jpeg)

English (US) ·